Orkestra
Simfonik

Orkestra Indonesia

Masuknya kontak dengan budaya barat juga berpengaruh dalam hal seni yang dibawa oleh para pelaut yang singgah di pulau jawa pada abad ke-16. Para musisi kapal yang singgah itu terdiri dari 1 pemain terompet dan 4 orang lainnya, kemungkinan pemain string. Para pedagang Portugis juga membawa pengaruh terhadap musik yang dimainkan oleh para budak (terdiri dari bangsa Asia Tenggara, India, Afrika).

Dalam buku “Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi” karya Soedarsono, ia menyatakan bahwa ‘pengaruh Barat terhadap musik sangat menonjol. Di istana-istana Jawa Tengah (termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta), musik Barat juga menyusup ke ansambel gamelan. Dalam beberapa komposisi gending atau lagu yang mengiringi tari putri bedaya dan serimpi dari keraton Yogyakarta, menyusup beberapa instrumen musik Barat, seperti genderang, trombone, terompet, dan kadang-kadang juga klarinet’.

Musik Klasik yang masuk ke Indonesia, yaitu pada jaman Hindia Belanda (awal abad 18) hanya bisa dinikmati oleh orang - orang kelas atas, terutama pemilik perkebunan Belanda dan klub elite. Gedung Kesenian Jakarta yang dirancang sebagai gedung konser merupakan icon di abad ke-19.

Jakarta Symphony Orchestra yang saat ini masih dikenal, merupakan rintisan dari kelompok amatir di awal abad ke-19, yaitu "Bataviasche Philharmonic Orchestra”, yang kemudian berganti nama menjadi Orkestra Nirom (Nederlandsch-Indische Radio-omroepmaatschappij) di tahun 1912. Ini adalah kelompok Orkestra tertua yang ada di Indonesia, dimana pada saat itu mereka rutin mengadakan pertunjukan untuk menghibur orang - orang Belanda di Batavia.

Tahun 1950, muncul Djakarta Radio Orchestra yang merupakan gabungan dari Cosmopolitan Orchestra (bersama Joel Cleber) dan Jakarta Studio Orchestra (bersama Sutedjo dan Iskandar). Di tahun 50-an ini, Jakarta sudah menjadi wadah untuk musik orkestra Indonesia walau sayangnya tidak ada catatan dan bukti rekaman yang jelas.

Twilite Orchestra

Twilite Orchestra terbentuk di bulan Juni tahun 1991 sebagai kelompok orkestra simfonik profesional, yang diprakarsai oleh Addie MS, bersama Indra Usmansjah Bakrie dan Oddie Agam. Pertama kali dibentuk, Twilite Orchestra adalah sebuah ensemble beranggotakan 20 orang musisi. Keberhasilan Twilite Orchestra ditandai dengan seiringnya pengakuan dunia musik internasional dan membuat Twilite Orchestra terdaftar sebagai anggota American Symphony Orchestra League pada tahun 1995.

Twilite Orchestra juga menjadi orkestra pertama dari Indonesia, yang tampil di Sydney Opera House, membawakan lagu-lagu tradisional Indonesia dalam aransemen orkestra (21 Juli 2009).

Beberapa grup orkestra lain juga mewarnai nuansa musik di Indonesia, seperti Nusantara Symphony Orchestra, Magenta Orchestra, Jakarta Philharmonic, dan sebagainya. Hingga saat ini, orkestra terus berkembang ke sekolah-sekolah dan universitas, dengan upaya agar masyarakat mengenal musik orkestra lebih luas, bukan hanya dimiliki kalangan atas.